Posted in

TV Pintar Mulai Ditinggalkan, Generasi Z Kembali Pakai Monitor Tabung CRT untuk Main Game dan Nonton – Inilah 3 Alasan Kenapa Teknologi Jadul Lebih Dicari dari yang Baru

TV Pintar Mulai Ditinggalkan, Generasi Z Kembali Pakai Monitor Tabung CRT untuk Main Game dan Nonton – Inilah 3 Alasan Kenapa Teknologi Jadul Lebih Dicari dari yang Baru

Gue baru aja lihat teman gue posting cerita di Instagram. Bukan foto di kafe aesthetic. Bukan video liburan ke Bali. Tapi foto tumpukan TV tabung di ruang tamunya.

Dua unit Sony Trinitron. Satu Panasonic. Semua beratnya kayak lemari es.

Captionnya: “Akhirnya koleksi CRT lengkap. Sekarang bisa main PS1 kayak jaman kecil dulu.”

Gue kaget. Masa iya orang masih nyari TV model gitu? Berat. Gede. Gak bisa nonton Netflix.

Tapi pas gue cek, ternyata fenomena ini lagi viral. Di forum-forum retro gaming, harga TV CRT bekas meroket. Sony Trinitron yang dulu cuma laku Rp200 ribu, sekarang bisa tembus Rp2-3 juta kalo masih mulus.

Selama 20 tahun industri elektronik menjual kita ‘lebih pintar, lebih tipis, lebih jernih’. Tapi di 2026, Gen Z sadar: ‘pintar’ berarti iklan masuk ke layar TV-mu, ‘tipis’ berarti mudah pecah dan tidak bisa diperbaiki, ‘jernih’ berarti semua game klasik terlihat jelek karena terlalu mulus.

Gue kira cuma segelintir orang. Tapi setelah baca beberapa artikel tentang tren ini, gue sadar ini gerakan global . Bukan nostalgia buta. Tapi pilihan teknis yang sadar .

Nih gue kasih tiga alasan kenapa monitor tabung CRT sekarang lebih dicari dari TV pintar. Dan kabar baiknya buat lo yang masih punya CRT di rumah: lo lagi duduk di atas tambang emas.

Sebelum Mulai: Sebenarnya Apa Istimewanya CRT?

CRT (Cathode Ray Tube) adalah teknologi display jadul yang pake tabung sinar katoda buat nampilin gambar . TV model kotak gede yang dulu ada di rumah setiap orang.

Setelah LCD dan LED mendominasi pasar, CRT dianggap mati. Tapi di 2026, terjadi kebangkitan yang gak terduga .

Bukan karena orang tiba-tiba nostalgia. Tapi karena kelemahan TV modern jadi semakin jelas, sementara kelebihan CRT yang dulu dianggap ‘kuno’ sekarang mulai dihargai lagi . Apalagi dengan maraknya digital fatigue dan keinginan untuk memutuskan diri dari internet sesekali .

Dan ini dia tiga keunggulan CRT yang gak bisa ditandingi TV pintar manapun.

Alasan 1: Input Lag Nyaris Nol – CRT Lebih Cepat dari TV Manapun, Bahkan OLED

Ini alasan nomor satu yang bikin para gamer kompetitif dan speedrunner wajib pake CRT .

Apa itu input lag?
Input lag adalah jeda antara lo pencet tombol di controller sampe aksi lo keliatan di layar. Di TV modern, ada proses digital: sinyal masuk, diproses, diskalain, ditampilin. Semua butuh waktu.

Di CRT? Gak ada.

CRT adalah teknologi analog. Sinyal dari console langsung ditampilin ke layar saat itu juga, tanpa buffer, tanpa processing, tanpa scaling . Hasilnya? Input lag mendekati nol milidetik.

Bahkan OLED terbaik sekalipun—yang bangga dengan response time 0,1ms—masih kalah dengan CRT dalam hal raw speed . Karena CRT gak perlu “ngecas” piksel kayak LCD atau OLED. Elektronnya langsung nembak fosfor di layar dan nyala instan.

Data dari komunitas speedrun:
Di forum Speedrun.com, para pelari mempertimbangkan CRT demi konsistensi gameplay yang gak bisa dikasih HDTV. Kalo lo pindah dari satu HDTV ke HDTV lain, delay-nya beda-beda. Tapi kalo pindah dari satu CRT ke CRT lain, rasanya sama .

Bayangkan lo main game fighting kayak Street Fighter atau Super Smash Bros. Reaksi sepersekian detik bisa nentuin menang atau kalah. Di CRT, reaksi lo beneran yang terjadi. Di TV modern, ada “pajak” delay yang bikin lo harus meramal .

Riset dari XDA Developers:
CRT dianggap “standar emas” untuk input lag. Bahkan di 2026, para gamer kompetitif dan speedrunner masih nganggep CRT sebagai pilihan utama karena keunggulan teknisnya yang gak bisa ditandingi panel modern .

Tapi bukannya OLED punya response time 0,1ms?
Iya. Tapi response time beda dengan input lag. Response time adalah seberapa cepet piksel berubah warna. Input lag adalah total waktu dari sinyal masuk sampe ke layar. CRT unggul di keduanya .

Common mistake:
Banyak yang mikir “layar 144Hz lebih cepet dari CRT”. Padahal, refresh rate tinggi gak ngebantu kalo processing delay-nya gede. CRT punya refresh rate standar (60Hz), tapi karena gak ada processing, delay totalnya lebih kecil.

Actionable tips (buat lo yang serius main game kompetitif atau retro):

  • Kalo lo main game fighting atau speedrun, cari CRT. Rasakan bedanya. Lo bakal kaget.
  • Jangan pake HD CRT (CRT yang bisa 1080i). Itu udah pake processing digital, input lag-nya naik . Cari SD CRT standar.
  • Kalo gak punya ruang buat CRT, cari CRT monitor PC (biasanya lebih kecil, 14-17 inci, tapi lebih tajam).

Alasan 2: Motion Clarity Superior – Gak Ada Ghosting, Gak Ada Blur

Ini alasan yang bikin CRT masih dicari walau tampilannya ‘kuno’ .

Apa itu motion clarity?
Motion clarity adalah kemampuan layar buat nampilin gambar bergerak dengan jelas, tanpa blur atau trailing. Di game fast-paced kayak fighting game, racing game, atau shooters, ini krusial.

Kenapa CRT lebih jernih?
CRT pake teknologi phosphor decay: setiap piksel cuma menyala sebentar, lalu redup sampe di-refresh di frame berikutnya . Hasilnya? Gak ada “ghosting” (bayangan) atau “motion blur” (kabur karena gerak).

LCD dan LED, sebaliknya, pake sample-and-hold: piksel terus menyala sepanjang frame. Mata lo “nahan” gambar itu, dan pas ada gerakan cepet, otak lo kebingungan—hasilnya blur .

Bandingkan:

  • CRT: objek bergerak keliatan jelas, tepiannya tajam.
  • LCD: objek bergerak keliatan blur, kayak pake efek “gerak cepat” di kamera murah.

Data dari XDA Developers:
“CRT monitors offer superior motion clarity and near-instantaneous response times” . Bahkan OLED—yang dianggap terbaik di kelasnya—setara dengan CRT, tapi gak ngalahin. LCD? Jauh banget .

Contoh nyata:
Coba lo main game fighting kayak Street Fighter II di LCD. Gerakan karakter keliatan “patah-patah” atau ada bayangan. Di CRT, gerakannya buttery smooth—walau refresh rate cuma 60Hz.

“Tapi kan refresh rate CRT cuma 60Hz, sementara LCD modern 144Hz?”
Refresh rate tinggi gak ngebantu kalo tiap frame-nya blur. CRT 60Hz dengan motion clarity sempurna > LCD 144Hz dengan ghosting. Apalagi kalo game-nya didesain buat CRT (kayak game retro) .

Teknologi ‘black frame insertion’ (BFI) di OLED modern sebenernya usaha buat meniru cara kerja CRT—dengan nyisipin frame hitam di antara frame gambar biar mata “resets” . Tapi BFI masih kalah sama CRT asli.

Studi kasus (dari forum retro gaming):
Banyak pemain Super Smash Bros. Melee—game GameCube yang masih punya komunitas kompetitif sampai sekarang—wajib pake CRT. Karena di LCD, timing combo-nya berantakan karena ghosting dan input lag .

Actionable tips:

  • Kalo lo main game kompetitif yang butuh reaksi cepet (fighting game, FPS, racing), prioritasin CRT.
  • Kalo gak punya CRT, cari monitor dengan BFI (black frame insertion). Tapi siap-siap kecerahan turun drastis.
  • Jangan beli TV murah dengan response time “1ms” (palsu). Cek review independen.

Alasan 3: ‘Cara Desainer Dulu Melihatnya’ – Game Klasik Didesain di Layar CRT, Bukan LCD 4K

Ini alasan paling filosofis. Tapi paling kuat buat para penggemar game retro.

Apa maksudnya?
Game klasik dari era 80-an, 90-an, dan awal 2000-an didesain di layar CRT. Para developer saat itu tahu persis gimana pixel art mereka bakal keliatan di CRT—lengkap dengan scanlines, color bleeding, dan blur alami .

Hasilnya? Pas lo main game itu di LCD 4K modern, keliatannya berantakan. Pixel-nya kotak-kotak gede. Warnanya terlalu tajam. Efek transparansi (yang dulu pake teknik dithering) jadi gagal karena LCD nampilin pixel per pixel, bukan nge-blur kayak CRT .

Quoting desainer game legendaris:
Kazuhiro Tanaka, graphic designer Metal Slug (1996), bilang: “It’s a technique where by slightly changing the color of surrounding pixels, to the human eye it looks like the pixels move by around 0.5 pixels” .

Rekannya, Yasuyuki Oda, nambahin: “Back in the old days, we’d say [to our artists] ‘add 0.5 of a pixel’, and have them draw in the pixels by taking scanlines into account. But with the modern Full HD monitor, the pixels come out too clearly and too perfectly that you can’t have that same taste” .

Artinya? Efek “setengah pixel” dan “scanlines” itu adalah fitur, bukan bug. CRT secara alami menyatukan pixel-pixel kasar jadi gambar yang mulus dan detail.

Di LCD? Pixel-nya keliatan terlalu sempurna. Game jadi keliatan kayak mainan Lego, bukan kayak yang dimaksud desainer.

Visual explanation (dari forum emulator):
CRT punya properti unik: scanline gaps (celah di antara baris pixel) buat vertical sharpening dan composite video bandwidth buat horizontal smoothing . Hasilnya? Dithering (teknik ngasih titik-titik buat ilusi warna baru) berfungsi. Di LCD, dithering cuma keliatan kayak titik-titik kasar .

“Tapi bukannya ada filter scanlines di emulator?”
Ada. Tapi kebanyakan filter gak akurat karena cuma nimpain garis hitam di atas layar. CRT asli punya glowcolor bleeding, dan non-linear distortion yang susah ditiru . Para penggemar setia nganggap filter itu “palsu” dan gak nangkep esensi aslinya .

Contoh nyata dari forum Libretro:
“Pixel graphics are projected on higher res with scanlines, splitting huge pixel blocks and appear sharper and less blocky (that’s the exact thing a CRT does)” . Plus, “pixel blending with a CRT filter is better, rounding pixels instead of squares” .

Common mistake:
Banyak yang mikir “game pixel art kelihatan lebih bagus di LCD karena lebih tajam”. Padahal, ketajaman itu bukan yang dimau desainer. Mereka sengaja pake blur dan blending CRT buat ilusi detail .

Actionable tips:

  • Kalo lo main game retro, jangan pake emulator dengan default setting. Cari CRT shader yang bagus (coba cek forum Libretro atau RetroArch).
  • Lebih baik lagi, cari CRT asli. Rasakan pengalaman otentik yang gak bisa ditiru filter digital manapun.
  • Kalo beli CRT, pastikan ukurannya gak kegedean. 14-20 inci udah cukup. Yang 29 inci beratnya bisa 50kg lebih, susah dipindah .

Tabel Perbandingan: Monitor Tabung CRT vs TV Pintar Modern (2026)

AspekMonitor Tabung CRTTV Pintar Modern (LCD/OLED)
Input lagMendekati nol (analog, tanpa buffer) 10-30ms (harus proses digital) 
Motion claritySuperior (phosphor decay, gak ada blur) Ada ghosting & motion blur (kecuali OLED+BFI) 
Response time<1 mikrodetik (fosfor) 1-5ms (LCD/OLED, tapi sering gak akurat) 
Akurasi warna (untuk konten retro)Sesuai desainer (blur & blending disengaja) Terlalu tajam (pixel keliatan kotak, dithering gagal) 
ResolusiRendah (480i/576i maksimal SDTV) Tinggi (1080p, 4K, 8K)
Berat20-70 kg (besi, kaca, tembaga) 5-15 kg (plastik, alumunium)
KetahananBisa puluhan tahun (kalo dirawat) Rata-rata 5-7 tahun (backlight mati, panel rusak)
Harga pasar 2026Bekas Rp200 ribu – Rp3 juta (tergantung model)Baru Rp2-20 juta (tergantung ukuran & fitur)

Dari 8 aspek, CRT unggul di 4 aspek teknis yang relevan buat gaming retro dan kompetitif (input lag, motion clarity, response time, dan akurasi untuk konten lawas). TV modern unggul di resolusi dan berat. Dua aspek sisanya imbang atau subjektif.

Tapi Bukankah CRT Itu Berat, Gede, dan Susah Diurus? (Iya, Itu Tantangannya)

Gue gak akan bohong. CRT punya banyak kekurangan.

Berat. Satu unit TV 29 inci bisa 50-70 kg. Dua orang dewasa pun kerepotan angkat. Kalo lo anak kost dengan kamar 3×3 meter, CRT 29 inci bakal makan separuh ruangan .

Boros listrik. CRT 29 inci bisa makan daya 100-150 watt. TV LED 40 inci cuma 50-70 watt. Kalo lo pake CRT setiap hari, tagihan listrik lo naik.

Rentan rusak. Kapasitor bocor. Flyback mati. Warna berubah. Dan suku cadangnya makin langka. Kalo rusak parah, bawa ke tukang servis TV pun mereka sering bilang “gak ada partnya” .

Berbahaya. Kalo lo gak ngerti elektronik, jangan pernah buka casing CRT. Ada kapasitor gede yang bisa nyetrum lo dengan tegangan puluhan ribu volt—bisa fatal .

“Terus kenapa orang masih beli?”

Karena buat mereka yang serius sama retro gaming atau competitive gaming, keunggulan teknis CRT outweigh semua kekurangannya .

  • Input lag nol gak bisa ditawar buat speedrunner .
  • Motion clarity superior bikin game fighting playable .
  • Visual otentik bikin game retro keliatan kayak seharusnya, bukan kayak versi “HD remaster” yang artifisial .

Common mistake:
Banyak yang beli CRT bekas tanpa ngecek kondisi internal. Hasilnya: mati sebulan kemudian, dan lo gak bisa balikin duit. Bawa multimeter kalo lo ngerti elektronik. Atau bawa teman yang ngerti .

Actionable tips:

  • Kalo lo serius beli CRT, cari Sony Trinitron / FD Trinitron atau JVC D-Series. Itu yang paling dicari .
  • Cek Facebook Marketplace, OLX, atau grup Facebook CRT Gamer Indonesia. Banyak yang jual dengan harga masuk akal.
  • Test dulu sebelum bayar. Nyalain. Colokin console. Liat warna, geometri, dan ada gak buzzing aneh.
  • Kalo lo gak punya space, jangan paksain. CRT 14-20 inci jauh lebih manageable daripada 29 inci. Atau cari CRT monitor PC (biasanya 14-17 inci, lebih tajam, dan lebih ringan).

4 Tanda Lo Harus Cari CRT (Daripada Beli TV Pintar Baru)

Gue kasih checklist. Jujur ya.

Lo mungkin lebih cocok pake CRT daripada TV pintar kalo:

  1. Lo main game fighting, racing, atau FPS klasik (terutama dari era PS2 ke bawah). Di LCD, timing lo berantakan karena input lag. Di CRT, lo bakal ngerasa bedanya kayak langit dan bumi .
  2. Lo punya koleksi console retro (NES, SNES, Sega Genesis, PS1, N64, GameCube, PS2) dan gak puas sama emulator. Lo mau pengalaman otentik. Lo mau liat pixel art kayak yang dimau desainer, bukan kayak balok Lego .
  3. Lo speedrunner. Waktu adalah musuh lo. Setiap milidetik delay di TV modern bisa bikin lo gagal world record. Di CRT, lo punya konsistensi yang gak bisa dikasih TV digital .
  4. Lo capek sama ‘smart’ feature. Lo gak butuh TV yang ngerekomendasiin tontonan, gak butuh iklan di home screen, gak butuh mic yang selalu dengerin lo. Lo cuma mau nampilin gambar dari console, gak lebih .

Kalo lo centang 2 dari 4, cari CRT. Gak usah beli yang mahal. Cukup yang masih hidup dan sehat. Rasakan bedanya.

Kesimpulan: Bukan Kemunduran, Tapi Pilihan Sadar untuk Pengalaman yang Lebih Baik

Jadi gini.

Selama 20 tahun industri elektronik menjual kita ‘lebih pintar, lebih tipis, lebih jernih’. Tapi di 2026, Gen Z sadar: ‘pintar’ berarti iklan masuk ke layar TV-mu, ‘tipis’ berarti mudah pecah dan gak bisa diperbaiki, ‘jernih’ berarti semua game klasik keliatan jelek karena terlalu mulus .

Mereka balik ke CRT karena:

  1. Input lag nol — buat gaming kompetitif dan speedrun, ini gak bisa ditawar .
  2. Motion clarity superior — game gerak cepet keliatan mulus, gak ada ghosting .
  3. Visual otentik — mereka mau liat game klasik seperti yang desainer maksud, bukan versi HD yang artifisial .

Ini bukan nostalgia buta. Ini pilihan teknis yang sadar. Mereka sadar bahwa ‘kemajuan’ teknologi display kadang bukan kemajuan buat semua jenis konten . Kalo lo cuma nonton Netflix 4K, TV modern jelas lebih bagus. Tapi kalo lo main Super Mario 64 atau speedrun Ocarina of Time? CRT adalah satu-satunya jawaban .

Pertanyaan terakhir buat lo:
Lo mau terus main game klasik di LCD 4K dengan input lag 50ms, pixel keliatan kotak-kotak, dan motion blur bikin pusing? Atau lo mau cari CRT bekas Rp500 ribuan, bersihin, dan beneran ngalamin game kayak seharusnya?

Pilihannya ada di tangan lo. Tapi inget: CRT makin langka setiap tahunnya. Kalo lo nunggu terlalu lama, harganya bisa naik, atau barangnya udah gak ada yang layak