Posted in

Smartphone Modular dan Material Daur Ulang: Tren Berkelanjutan atau Sekadar Gimik? Setelah Hitung-Hitung, Aku Malah Diam

Smartphone Modular dan Material Daur Ulang: Tren Berkelanjutan atau Sekadar Gimik? Setelah Hitung-Hitung, Aku Malah Diam

Kapan terakhir kali kamu ganti HP? Dua tahun lalu? Setahun lalu? Atau kemarin baru checkout yang versi terbaru?

Jangan buru-buru jawab. Aku mau tanya satu hal lagi: HP lama kamu itu akhirnya pensiun karena apa? Layarnya pecah dan biaya servisnya nggak masuk akal? Baterainya udah nggak kuat setengah hari? Atau cuma karena “kamera yang baru kelihatan lebih keren”?

Kalau jawabannya dua yang pertama, selamat—kamu jadi korban planned obsolescence yang tertata rapi. Kalau yang ketiga… yah, setidaknya kamu jujur.

Tapi yang mau aku bahas hari ini bukan ceramah moral. “Selamatkan bumi”, “kurangi jejak karbon”—dengerin itu terus-terusan bikin telinga kebal. Aku mau ngajak kamu hitung-hitungan yang jauh lebih realistis: soal smartphone modular dan material daur ulang, apakah beneran bisa bikin kamu hemat?

Cerita dari Teman Baikku

Aku punya teman, sebut saja Bima. Kerja di bidang desain, jadi matanya super sensitif soal akurasi warna layar. Tahun 2024 dia beli HP flagship keluaran merek ternama. Harganya hampir 18 juta.

Satu setengah tahun kemudian, layarnya jatuh dan retak. Dia bawa ke service center resmi, tanya biaya ganti layar. Jawabannya: 4,8 juta.

Dia langsung lemas. Harga jual bekas HP-nya mungkin masih sekitar 6 juta. Ganti layar saja hampir 5 juta?

Yang lebih bikin sakit kepala: pihak service bilang, karena panel layar model ini dikalibrasi bareng motherboard, ganti layar di tempat lain bisa bikin warna jadi nggak akurat. Artinya, kamu mau bayar 4,8 juta untuk layar original, atau terima layar dengan warna aneh.

Bima akhirnya beli HP baru. Yang lama—layar retak, baterai sehat, motherboard mulus—dilempar ke laci.

Di cerita ini nggak ada yang menang. Bima keluar uang ekstra, lingkungan dapat tambahan sampah elektronik. Dan merek HP itu? Berhasil jual dua perangkat.

Smartphone Modular Sebenarnya Bisa Hemat Berapa?

Sekarang pindah ke Fairphone. Merek ini mungkin belum familiar di Indonesia, tapi di Eropa mereka sudah belasan tahun main di pasar ini. Tahun 2026 mereka resmi masuk pasar Amerika, meluncurkan Fairphone (Gen. 6+) dengan harga 650 dolar, garansi lima tahun, dan update software sampai 2033.

Data pentingnya di sini: iFixit kasih skor 10/10 untuk kemudahan perbaikan. Ada 12 modul yang bisa kamu ganti sendiri cuma pakai obeng. Harga komponen resminya: layar 90 dolar, port USB-C 20 dolar, baterai 40 dolar.

Bandingkan dengan flagship mainstream. Ganti layar mulai 300 dolar. Ganti baterai minimal 100 dolar. Pilihan banyak orang? Servis nggak worth it, mending beli baru. Karena begitu biaya perbaikan lewat setengah harga HP, aturan “50% repair rule” langsung muncul di kepala: beli baru aja.

Tapi logika smartphone modular beda total. Kalau Bima pakai Fairphone, layar retak tinggal ganti 90 dolar, HP lanjut jalan. Setahun kemudian baterai melemah, 40 dolar ganti baru. Dua tahun lagi port USB longgar, 20 dolar beres.

Total biaya perbaikan tiga tahun: 150 dolar. Sementara pengguna flagship biasa? Kemungkinan besar sudah ganti HP minimal sekali, keluar 600 sampai 1000 dolar.

Hitungan ini nggak butuh sentimen lingkungan. Murni matematika.

Material Daur Ulang: Beneran atau Cuma Pajak Hijau?

Jujur, aku selalu curiga sama yang namanya “green premium”. Banyak merek angkat bendera sustainability, harga dinaikin, tapi efek nyatanya… kamu tahu sendirilah.

Tapi data Samsung Galaxy S26 series 2026 bikin aku sedikit berubah pikiran. S26 Ultra punya kandungan material daur ulang minimal 17,7% di bodinya. Magnet speaker pakai 100% rare earth daur ulang, PCB pakai 100% tembaga daur ulang, kawat bonding kamera depan pakai 100% emas daur ulang, dan kobalt serta lithium di baterai juga 100% hasil daur ulang.

Artinya apa? Ini bukan sekadar tempelan biar kelihatan hijau. Ini komponen inti. Rare earth, kobalt, lithium—bahan-bahan yang benar-benar butuh penambangan, transportasi, dan pemurnian dengan biaya lingkungan tinggi. Pakai versi daur ulang berarti setiap unit yang diproduksi mengurangi satu kali galian tambang.

Yang lebih praktis: Samsung janji 7 tahun update sistem dan patch keamanan. Kamu nggak perlu ganti HP cuma karena “sistemnya lemot” atau “aplikasi nggak kompatibel”. HP yang dibeli 2026 masih dapat update keamanan sampai 2033. Rentang waktu itu sudah melewati dua siklus ganti HP kebanyakan orang.

Tapi, Smartphone Modular Nggak Seindah Itu

Aku harus jujur. Smartphone modular bukan obat segala penyakit.

Proyek HMD Fusion 2 dibatalkan. Alasannya simpel: HP modular tanpa ekosistem modul yang cukup itu nggak ada gunanya, dan mengembangkan banyak modul biayanya mahal, sementara pasarnya kecil. Google Project Ara sudah lama mati. Modul “Friends” LG G5 jadi lelucon.

Konsep modular Tecno di MWC 2026 kelihatan keren—bodinya 4,9mm ultra tipis, koneksi magnetik, 10 modul pilihan, bahkan bisa ditumpuk empat baterai. Tapi Tecno sendiri bilang ini “proyek desain jangka panjang”. Kapan produksi massal? Nggak tahu.

Masalah modularitas ada di sini: dia menuntut konsumen mengubah kebiasaan. Kebanyakan orang beli HP ingin solusi lengkap yang nggak perlu dipikir. Bukan satu set Lego.

Fairphone pintar karena nggak menjual “modularitas” sebagai alasan buat kamu bongkar-pasang tiap hari. Modularitas mereka berorientasi perbaikan—kamu nggak butuh modul buat nambah fitur, kamu cuma butuh bisa ganti komponen kalau rusak. Positioning ini jauh lebih realistis.

Tiga Kesalahan yang Paling Sering Dilakukan

Kesalahan pertama: Cuma lihat harga beli, nggak hitung biaya total kepemilikan.

Fairphone 650 dolar versus flagship 1000 dolar, mana lebih mahal? Kelihatannya Fairphone lebih murah. Tapi kalau flagship bisa kamu pakai empat tahun tanpa servis, sementara Fairphone tiga tahun ganti komponen dua kali? Sebaliknya, flagship sekali layar pecah bisa langsung bikin kamu mikir ganti HP, sementara Fairphone dengan layar 90 dolar hampir nggak ada alasan buat ganti.

Hitungnya pakai “biaya pemakaian per tahun”, bukan “harga beli”.

Kesalahan kedua: Menyamakan “material daur ulang” dengan “ramah lingkungan”.

Material daur ulang memang mengurangi kebutuhan bahan baku baru. Tapi dampak lingkungan sebuah HP, lebih dari 80% datang dari tahap produksi. Pakai material daur ulang lebih baik daripada material baru, tapi masih jauh lebih buruk daripada “nggak produksi HP baru sama sekali”. Nilai hijau sebenarnya dari smartphone modular bukan di berapa persen plastik daur ulangnya, tapi di kemampuannya bikin kamu nggak perlu sering beli HP baru.

Kesalahan ketiga: Merasa “perubahan satu orang nggak ada artinya”.

500 ribu ton sampah elektronik per tahun, satu HP kamu nggak ngaruh apa-apa. Tapi CEO Fairphone pernah bilang sesuatu yang aku setuju: konsumen Amerika terjebak di sistem yang mendorong planned obsolescence terlalu lama. Masalah sistem butuh solusi sistemik, tapi perubahan sistemik biasanya dimulai dari cukup banyak orang yang memilih berbeda.

Jadi, Layak Nggak?

Kalau kamu tipe yang tiap tahun ganti HP, smartphone modular mungkin bukan buat kamu. Dopamin kamu datang dari momen “unboxing HP baru”, bukan dari “HP ini sudah kupakai lima tahun”.

Tapi kalau kamu tipe ini: HP bisa dipakai aja, nggak suka ribet ganti-ganti, benci migrasi data, dan punya resistensi bawaan terhadap planned obsolescence—maka perangkat modular dan HP dengan software support jangka panjang layak dipertimbangkan serius.

Fairphone Gen 6+ dapat software support sampai 2033. Samsung S26 series juga 7 tahun update. Artinya kalau kamu beli sekarang, bisa dipakai sampai 2033. Tujuh tahun tanpa khawatir sistem lemot, celah keamanan, atau aplikasi nggak jalan.

Tujuh tahun, kamu hemat bukan cuma dua-tiga unit HP. Tapi juga energi mental setiap kali ganti HP—perasaan “ah, harus setup ulang lagi”.

Satu Hal Terakhir yang Mungkin Sedikit Melodramatis

HP lama Bima yang layarnya retak itu akhirnya dia bawa ke tukang servis di Glodok. Keluar 1,2 juta, dapat layar “kualitas original”. Warnanya memang agak off, tapi dia kalibrasi suhu warnanya, dan masih bisa dipakai.

Dia bilang ke aku: “Sebenarnya aku nggak perlu ganti. Cuma waktu itu merasa, bayar 4,8 juta buat benerin HP lama, bodoh banget.”

Aku jawab: “Terus sekarang keluar 1,2 juta plus HP baru, bukannya lebih bodoh?”

Dia diam.

Kadang kita merasa “benerin yang lama daripada beli baru” itu pilihan rasional. Tapi kalau dihitung dengan benar, bisa jadi justru sebaliknya.

Smartphone modular nggak akan menyelamatkan dunia. Material daur ulang juga nggak. Tapi kalau kamu bisa pakai satu HP tujuh tahun, mengurangi satu unit sampah elektronik, mengurangi satu kali galian tambang kobalt, mengurangi satu pengeluaran yang sebenarnya nggak perlu—

Maka hal ini layak dipikirkan dengan serius.