Posted in

Baterai 100 Tahun”: Benarkah Gadget Masa Depan Tidak Perlu Lagi Dicharge Setiap Hari? Bocoran Teknologi Terbaru 2025

Baterai 100 Tahun": Benarkah Gadget Masa Depan Tidak Perlu Lagi Dicharge Setiap Hari? Bocoran Teknologi Terbaru 2025

Gue lagi nungguin laptop nge-charge nih. Dari tadi 45%, naiknya cuma 10%. Duh. Bayangin aja kalo gak perlu lagi nungguin ini. Bangun tidur, hp masih 100%. Abis main game seharian, masih 100%. Bahkan lo tinggalin di laci berbulan-bulan, pas nyala, baterainya masih penuh. Itu yang diomongin sama teknologi baterai 100 tahun ini.

Tapi jangan bayangin lo cas pakai kabel ya. Ini beda sama baterai lithium-ion yang kita pake sekarang. Ini soal baterai yang sumber dayanya berasal dari… limbah nuklir.

Baterai Nuklir di Hp Lo? Gimana Caranya?

Jadi gini, teknologi yang lagi rame ini sebenernya udah ada dari dulu, tapi buat aplikasi yang ekstrem. Seperti di pesawat ruang angkasa Voyager yang masih nyala setelah 40 tahun lebih terbang di luar angkasa. Atau di alat pacu jantung. Nah, yang baru adalah mereka berhasil ngecilin dan nge-amanin buat dipake di perangkat konsumen.

Namanya betavoltaic. Prinsipnya, dia punya material radioaktif yang ngelepas partikel beta (elektron). Partikel ini ditangkep sama semikonduktor, terus diubah jadi listrik. Karena proses peluruhan atom radioaktif ini bisa berlangsung puluhan tahun secara konstan, ya listriknya juga ngeluarin daya kecil yang konstan selama itu.

Bayangin kayak batu bara yang dibakar, cuma ini “pembakarannya” terjadi di tingkat atom dan bisa bertahan seabad. Gak ada charging cycle. Gak ada degradasi kayak baterai lithium.

Tapi, Beneran Bisa Buat Gadget Sehari-hari?

Ini nih yang harus lo bedain: mimpi vs realita 2025.

Realita 1: Bukan Buat Nge-Game atau Edit Video.
Baterai baterai 100 tahun ini ngasih daya yang konstan, tapi dalam jumlah yang kecil. Sangat kecil. Misal, buat nge-power sensor IoT yang ngecek suhu ruangan setiap jam, atau chip pelacak di kontainer kargo yang harus tahan 50 tahun di laut. Itu cocok banget.

Tapi buat nge-charge hp yang butuh daya gede buat layar dan processor? Jauh banget. Bayangin lo punya power bank yang cas-nya cuma 5 watt, tapi nyala terus selama 100 tahun. Ya gak bakal bisa ngecas hp yang habis 20 watt sejam.

Realita 2: Baterai Hybrid adalah Jalan Tengahnya.
Nah, ini yang kemungkinan besar bakal lo liat pertama kali. Konsep always-on di gadget. Misal, di smartwatch. Jam lo lagi sleep mode, layar mati, tapi sensor kesehatan (kayak detak jantung, suhu) tetep aktif 24/7 karena ditenagain sama sel betavoltaic. Baru pas lo aktifin layar, sistem utamanya nyala dari baterai lithium biasa. Jadi baterai utamanya gak cepet tekor buat tugas-tugas kecil.

Realita 3: Masalah Regulasi dan Psikologi.
Coba lo bayangin bawa hp yang di dalamnya ada material radioaktif. Meskipun semua produsen bakal bilang ini aman dan tersegel, tetep aja ada rasa was-was. “Gimana kalo bocor?” Persepsi publik ini tantangan terbesarnya. Ibaratnya, lo mau bawa generator nuklir mini di saku.

Salah Paham yang Paling Sering Muncul

Kesalahan terbesar adalah mikir kita bakal beli iPhone dengan baterai 100 tahun tahun depan. Gak bakalan. Teknologi ini bakal masuk secara invisible dulu. Di chip AI di server, di perangkat medis yang ditanam di tubuh, atau di router WiFi yang harus nyala 24/7 tanpa jeda.

Kesalahan lain: mengira ini baterai yang bisa di-charge ulang. Bukan. Ini adalah power source sekali pakai seumur hidup. Lo gak akan pernah nancepin kabel cas ke perangkat ini. Dia nyala, terus suatu hari nanti, setelah lo punya cucu, dia bakal berhenti dengan sendirinya.

Tips Menyambut Era Baterai Abadi (Tapi Tidak Instan)

  1. Jangan Buru-buru Ganti Gadget. Tunggu dan lihat dulu. Teknologi pertama yang keluar pasti mahal banget dan buat niche market. Tunggu sampai aplikasinya matang dan harganya terjangkau.
  2. Fokus pada Perangkat “Background”. Kalau lo pengen merasakan manfaatnya cepat, cari perangkat yang fungsinya always-on. Kayak smart home sensor, pelacak aset, atau perangkat medis. Di situlah teknologi ini bakal bersinar duluan.
  3. Pahami Batasan “Tahan Lama”. Tanya selalu: daya berapa yang dihasilkan? Untuk smartphone, kita butuh puluhan watt. Baterai betavoltaic awal mungkin cuma menghasilkan miliwatt atau watt yang sangat kecil. Cocoknya buat apa, itu yang penting.

Jadi, apakah baterai 100 tahun ini akan mengakhiri ritual charge kita setiap malam? Suatu hari nanti, iya. Tapi bukan dengan cara yang lo bayangkan.

Revolusinya bukan pada hp yang sekali cas langsung tahan setahun. Tapi pada dunia di sekitar lo yang jadi lebih “selalu hidup”. Sensor yang gak pernah mati, data yang selalu mengalir, dan perangkat yang benar-benar bisa lo lupakan karena dia akan selalu bekerja di latar. Itulah masa depan yang sebenarnya. Dan itu mungkin lebih keren daripada sekadar angka persentase baterai di layar hp lo.