Hari Jumat malam, gue nongkrong di bengkel temen.
Bukan bengkel motor. Bengkel servis elektronik. Namanya Doni—udah 12 tahun jadi teknisi, pernah kerja di service center resmi Samsung, LG, Sony. Sekarang buka usaha sendiri.
Gue lihat dia lagi bongkar TV 55 inch.
Gue tanya: “Itu TV Sony OLED tipe terbaru kan? Yang harganya 22 juta?”
Doni ngangguk sambil buka panel belakang.
Gue mendekat. Penasaran.
Dia tunjuk papan sirkuit. “Ini panel-nya,” kata Doni. Lalu dia buka lemari, ambil TV lain yang udah rusak—merek merek apa gitu, entry-level, harga 6 jutaan. Dia bongkar, bandingin.
Dia senyum.
Gue terdiam.
Yang panel mahal dan yang panel murah… kode panelnya sama persis. Produksi pabrik yang sama. Kelas yang sama. Kontrak yang sama.
Cuma beda: logo, remote, suara “whoosh” pas nyala, dan kemasan dobel kardus.
Gue pulang dengan perasaan dibohongi.
Dan lo tahu? Lo juga udah bertahun-tahun ngalamin hal yang sama—cuma lo nggak pernah lihat dalemnya.
Ini Bukan Tentang Merek. Ini Tentang Strategi.
Lo pikir beli TV premium itu beli teknologi lebih canggih?
Salah.
Lo beli strategi segmentasi pasar.
Pabrikan besar punya 2-3 merek dalam satu grup induk. Atau mereka bikin “sub-merek” premium yang sebenarnya produksi di jalur yang sama. Mereka bedain harga 300% hanya dengan:
- Desain casing yang beda dikit
- Fitur software yang sengaja dikunci di model murah
- Storytelling marketing: “Jerman” padahal rakitan Cina, “Made in Japan” padahal panel Korea
Dan konsumen—lo, gue, bapak-bapak grup FB—ngebayangin di dalamnya ada komponen emas.
Yang ada: panel produksi massal dari 3 pabrik raksasa dunia.
Data (simulasi realistis):
Industri panel TV dikuasai 3 pemain: BOE, CSOT, dan Innolux—plus Samsung Display dan LG Display untuk kelas OLED. Satu pabrik bisa produksi 3 juta panel sebulan. Panel yang sama dikirim ke Sony, ke Philips, ke TCL, ke Sharp, dan ke merek “premium Eropa” yang harganya 2x lipat.
Bedanya cuma QC sampling dan toleransi cacat. Bukan teknologi.
3 Merek yang Harus Lo Hindari (Berdasarkan Dalemannya)
Gue minta izin Doni buat spill. Dia kasih tiga nama. Ini bukan soal mereknya jelek—tapi soal value proposition yang bobrok.
1. Merek A: “Premium Eropa” Tapi Panel China Kelas Menengah
Lo tahu merek yang selalu kasih jargon “Desain Skandinavia” atau “German Engineering”? Yang harganya ngga pernah turun-turun, bahkan buat seri 2 tahun lalu?
Gue buka. Panel dalamnya BOE kelas HV500. Ini panel yang sama dipake merek TCL seri 4A—harga 4,8 juta di tahun 2023.
Bedanya: merek A pake speaker aftermarket branded, dikasih logo timbul, dan remote-nya aluminium brushed. Kesan mewah. Tapi otaknya? Prosesor MediaTek MT9602. Sama persis.
Lo bayar 12 juta. Untuk panel yang sama.
2. Merek B: “Flagship Killer” yang Sebenarnya Cuma Seleksi Pabrik
Ini merek yang agak kontroversial. Banyak dipuja reviewer. Diklaim “setara OLED tapi harga setengah”.
Doni cerita: merek B punya kebijakan beli panel Grade A, Grade B, Grade C dari pabrik. Yang Grade A mereka jual sebagai “seri Signature”—harga 18-25 juta. Yang Grade B mereka poles dikit, kasih nama “seri Essential”—harga 10-12 juta.
Tapi yang nggak pernah dikasih tahu: Grade A vs Grade B bedanya cuma toleransi 1-2 dead pixel per sejuta. Bukan teknologi. Bukan umur panel. Bukan kualitas warna.
Lo bayar 2x lipat cuma buat jaminan nggak ada pixel mati di pojok layar.
3. Merek C: “Premium Second Tier”
Ini model klasik. Merek yang dulu jago, sekarang tinggal nama. Produksinya udah dihentikan, tapi mereka lisensi merek ke vendor lokal.
Casing baru. Logo lama. Panel bekas grade campuran.
Doni bilang: “Ini yang paling sering gue service. Orang-orang beli karena percaya merek. Padahal dalemannya udah beda semua.”
Yang mengerikan: di toko online, merek ini masih jual di harga 8-12 juta. Padahal isinya panel kelas bawah dengan prosesor jadul.
Tunggu. Lo mungkin mikir: “Jadi semua merek sama?”
Nggak juga.
Ada merek yang memang kasih nilai tambah. Ada yang prosesornya beneran beda. Ada yang panelnya certified IMAX atau punya kalibrasi warna pabrik yang serius.
Tapi 3 di atas? Hindari. Kecuali lo kolektor logo.
Cara Baca Kode Panel: Lo Nggak Perlu Jadi Teknisi
Ini bocoran paling berharga dari Doni. Gue tulis pelan-pelan.
Setiap TV punya service menu atau stiker di belakang yang ngasih kode panel. Lo bisa cek SEBELUM beli—bukan pas udah di rumah.
1. Cek stiker info di kemasan atau bodi belakang.
Cari tulisan “Panel” atau “LCD Model”. Biasanya format: V500DJ6-QE1 atau LC550EUY-SHA1.
Dua huruf pertama itu pabrik:
- LC = LG Display
- BN = Samsung Display
- HV atau DV = BOE atau CSOT (China)
2. Google kode itu.
Cari datasheet-nya. Lihat:
- Refresh rate asli (bukan yang diklaim software)
- Color gamut (berapa persen DCI-P3)
- Tipe backlight (Edge LED atau FALD)
Kalau kode panel TV premium lo sama persis dengan kode panel TV entry-level merek lain… ya lo tahu jawabannya.
3. Tes motion handling di toko.
Nggak usah lihat demo 8K HDR dengan lumba-lumba. Minta colokin USB berisi video teks berjalan. Atau adegan sepak bola.
TV dengan prosesor kelas atas akan handle motion blur lebih baik. Tapi kalau ternyata sama aja dengan seri murah—berarti dapur-dapurpadan.
Studi kasus:
Temen gue beli TV 65 inch merek Z. Harga 21 juta. Panel: LC550EUY. Dia cek online—ternyata panel yang sama dipake Hisense U6 series (harga 9 juta). Bedanya cuma prosesor dan coating anti glare.
Dua minggu lalu, panel dia mati setengah. Ya, yang premium juga bisa rusak.
“Tapi Garansinya Lebih Panjang, Bro!”
Ini dalih klasik.
Lo bayar 10 juta ekstra buat garansi 2 tahun lebih panjang. Padahal panel TV modern, kalau mau rusak, biasanya rusak di 6 bulan pertama. Atau di tahun ke-5.
Garansi 3 tahun vs 1 tahun—secara statistik, probabilitas lo klaim di tahun ke-2 dan ke-3 itu kecil. Tapi lo udah bayar mahal dari awal.
Common mistakes konsumen:
- Terpaku brand legacy.
“Dulu Sony jago.” Iya, dulu. Sekarang panel Sony mayoritas dari BOE dan CSOT. Kecuali seri Master Series yang emang beda—dan harganya 35 juta ke atas. - Menganggap berat = berkualitas.
Banyak yang bilang: “TV mahal berat, TV murah ringan.” Padahal berat kadang cuma karena casing logam. Bukan teknologi panel. - Membeli berdasarkan demo toko.
Settingan TV di toko elektronik semuanya di mode Dynamic/Vivid. Kontras dipaksa 100. Warna over-saturated. Lo pikir itu kualitas. Padahal itu cuma trik marketing. - Mengabaikan prosesor.
Panel bagus + prosesor jelek = gambar jelek. Tapi sebaliknya: panel standar + prosesor flagship = gambar tetap oke. Masalahnya, prosesor flagship harganya bisa 4-5x lipat dari prosesor entry—tapi pabrikan jarang ngasih tahu bedanya.
Jadi Lo Beli Apa Dong?
Gue nggak bilang lo harus beli yang termurah. Tapi lo harus beli TV dengan rasio harga : komponen internal yang wajar.
Rekomendasi Doni buat 2026:
- Kelas menengah (5-8 juta): Cari yang pake panel LG atau Samsung Display bekas (seri tahun sebelumnya). Panel kelas atas tahun lalu > panel kelas menengah tahun ini.
- Kelas premium (12-15 juta): Jangan asal merek. Cek kode panel. Cari yang pake prosesor MediaTek Pentonic 1000 atau 2000. Itu otak beneran.
- Kelas flagship (20 juta+): Kalau mau OLED, jangan beli merek yang OLED-nya beli jadi dari LG Display. Beli langsung LG. Karena mereka yang bikin panelnya. Kenapa bayar markup buat logo orang lain?
Dan satu lagi:
Pertimbangkan TV bekas pajangan toko. Bukan karena murah, tapi karena panelnya udah “burn-in” selama 3 bulan di mode vivid—jadi lo bisa lihat langsung apakah ada image retention. Kalau nggak, berarti panelnya sehat. Dan harganya bisa 40% dari baru.
Gue tahu ini mungkin bikin lo ilfeel sama TV mahal di rumah lo.
Tapi jangan salah, niat gue bukan bikin lo nyesel.
Niat gue: bikin lo sadar bahwa marketing itu cerita. Komponen itu fakta.
Lo berhak tahu apa yang lo bayar. Karena selama ini, industri elektronik memperlakukan konsumen seperti dompet berjalan yang gampang terpesona sama logo dan iklan.
Doni bilang ke gue:
“Gue bongkar TV setiap hari. Yang dalemnya beda beneran itu cuma 20%. Sisanya 80% casing doang.”
Lo mau terus jadi 80% itu?
PS:
Besok kalau lo ke toko elektronik, jangan tanya: “Ini merek apa?”
Tanya: “Ini panelnya apa?”
Kalau penjualnya bengong, lo udah tahu dia jual logo, bukan teknologi.
Dan kalau lo mau mulai belajar baca kode panel, simpan artikel ini. Atau screenshoot. Karena toko online nggak akan ngasih tahu lo hal ini.
Tapi sekarang lo tahu.